0 8 min 3 tahun

Beritakampus.id – Jakarta, Pemberian gelar adat terhadap Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) Angelica Tengker sempat ditanggapi Ketua I Majelis Kebudayaan Minahasa (MKM) lewat salah satu media daring pada 15 Maret 2023, yang berjudul “Majelis Kebudayaan Minahasa tak Pernah Beri Gelar Adat kepada Angelica Tengker”. Meskipun sebenarnya berita yang disajikan puluhan media daring baik lokal maupun nasional tidak ada satupun yang menyebutkan bahwa pemberian gelar adat diberikan oleh MKM. Dan memang pelaksanaannya pun demikian dilakukan oleh DPP KKK dengan tujuan melestarikan ada dan budaya daerah sekaligus promosi wisata di Anjungan Provinsi Sulawesi Utara yang berada di kawasan Taman Mini Indonesia Indah Jakarta.

Angelica Tengker menjelaskan tanggapan tersebut lewat tulisan yang dibagikan di media sosial WhatsApp pada Kamis (23/3/2023).

Berikut penjelasan lengkap Angelica Tengker:

Saya mengikuti diskusi terkait Gelar Adat Minahasa, di mana pembahasan dimulai dengan adanya pemberitaan pemberian gelar adat kepada saya pada saat Pengukuhan Secara Adat Minahasa Kepengurusan DPP KKK, pada Sabtu, 11 Maret 2023 di Anjungan Sulawesi Utara, TMII.

Pertama-tama saya sampaikan apresiasi atas diskusi- diskusi yang berkembang yang menunjukkan kepedulian terhadap pelestarian Adat Budaya Minahasa.

Selama perjalanannya DPP KKK sebagai organisasi kemasyarakatan dan juga merupakan organisasi yang meletakkan adat dan budaya sebagai panduannya, selalu mengedepankan pendekatan adat budaya Minahasa sebagai nilai-nilai luhur dalam menjalankan roda organisasi. Kerukunan Keluarga Kawanua sepanjang perjalanan telah terus menerus berupaya memperbaiki dan melengkapi proses pelestarian adat budaya Minahasa sebagai pengikat rasa ke- Kawanua-an dalam ikatan kekeluargaan yang berlandaskan kasih.

Pelestarian tersebut juga kami terapkan dalam proses penetapan kepengurusan, yaitu melalui Pelantikan secara organisasi dan Pengukuhan secara Adat Budaya Minahasa, dengan memohon berkat, tuntunan dan penyertaan Tuhan Yang Maha Besar, maha Pengasih dan Penyayang untuk dapat senantiasa menjaga jalannya organisasi KKK.

Prosesi Upacara Pengukuhan Secara Adat Minahasa ini juga terus kami sempurnakan dan juga dilakukan saat Pengukuhan Kepengurusan di daerah.

Menjadi pedoman kami, melalui Kepengurusan KKK di mana pun berada, kearifan budaya Minahasa tetap terawat dan terjada, serta keselarasan dengan kearifan lokal setempat di mana organisasi KKK berada dapat terbina.

Terkait penyebutan ‘gelar adat’ kepada Ketua Umum DPP KKK yang ramai diperbincangkan, saya ingin sampaikan beberapa hal, yaitu:

  1. MKM tidak memberikan gelar adat kepada saya sebgai ketua umum saat upacara pengukuhan secara adat Minahasa. Gelar Adat yang diberikan oleh MKM dilakukan di Minahasa sesuai dengan prosedur yang sudah berlaku.
  2. Penyebutan gelar adat pada upacara pengukuhan bukan atas permintaan atau keinginan saya pribadi, dan tidak juga diperuntukan untuk mengangkat diri sendiri, tetapi diperuntukan bagi Ketua Umum, dan untuk selanjutnya disempurnakan dalam PO Pengukuhan Secara Adat DPP KKK.
  3. Pemberian gelar yang disampaikan pada upacara pengukuhan adalah bentuk penghargaan/ penghormatan secara internal organisasi DPP KKK kepada siapa yang menjadi pimpinan Kerukunan Keluarga Kawanua.
  4. Prosesi pemakaian baju adat oleh Tonaas Wangko Umbanua E. E. Mangindaan (Dewan Kehormatan KKK), Tonaas Wangko Umbanha Theo Sambuaga (Ketua Dewan Kehormatan KKK) serta Tonaas Wangko Umbanua Ronny Sompie (Ketua Dewan Pembina KKK) adalah bagian dari para Tonaas merestui, mendoakan dan memberikan kepercayaan kepada Ketua Umum sebagai pemimpin Kerukunan Keluarga Kawanua agar menjalankan kepemimpinan dengan arif dan bijaksana dalam prosesi adat.
  5. Prosesi Upacara Adat terdiri dari:
    1. MENGALEY atau MEMOHON. DOA MEMOHON KEPADA EMPUNG WAILAN WANGKO
    2. TUMATAWAANG. Tawaang adalah pohon pembatas, dengan doa kepada Empung Wailan Wangko, Amang Kasuruan Wangko (Tuhan Yang Maha Besar) agar sebagai pemimpin dapat memiliki hati yang lurus dan menjalankan norma hidup Tou Minahasa yang percaya kepada Tuhan, saling mengasihi dan saling membantu.
    3. SUMASANTI. Santi adalah pedang, dengan doa kepada Empung Walian Wangko, Amang Kasuruan Wangko (Tuhan Yang Maha Besar), mendoakan agar memiliki kekuatan dan keberanian dalam memimpin dengan tuntunan Tuhan.
  6. Untuk kegiatan Pengukuhan Secara Adat Minahasa tersebut DPP Kerukunan Keluarga Kawanua juga telah menerbitkan edaran Panduan Busana Adat Minahasa DPP KKK yang disusun oleh tim : Bidang Pengembangan Kebudayaan DPP KKK dan Bidang Fesyen DPP KKK dengan merujuk kepada Surat Keputusan Bupati Minahasa Nomor 254/KDH/VIII/1995 Tanggal 3 Agustus 1995, tentang Ketentuan Baju Adat Minahasa, yang diusulkan Yayasan Kebudayaan Minahasa (YKM) bersama Kerukunan Keluarga Kawanua.
  7. Prosesi upacara secara adat tersebut disusun dan telah menjadi panduan (SOP) untuk pelantikan dan pengukuhan KKK baik di Pusat, DPW Provinsi, DPD Kabupaten dan Kota, dengan mempelajari beberapa referensi, termasuk buku yang pernah disusun oleh Tim Kerukunan Keluarga Kawanua, yaitu buku Gelar Adat Minahasa, oleh Kerukunan Keluarga Kawanua pada tahun 2011.

Kerukunan Keluarga Kawanua berkoordinasi, berkolaborasi dan bersinergi dengan semua organisasi/ perkumpulan Kekawanuaan / Minahasa dalam upaya Pelestarian Nilai-nilai Luhur Adat Tou Minahasa dan Pengembangan Budaya.

Pada kepengurusan saat ini kami membagi kegiatan/program adat budaya dalam 3 bidang, yaitu:

  • Bidang Pengenbangan Kebudayaan
  • Bidang Perlindungan dan Pelestarian Nilai Adat Minahasa
  • Bidang Sastra dan Pelestarian Bahasa Daerah Minahasa

Upaya yang kami lakukan pada Upacara Pengukuhan Adat Kepengurusan DPP KKK adalah keseriusan kami dalam upaya menampilkan/menggelar kegiatan adat budaya dalam proses pelestarian. Kegiatan tersebut kami laksanakan di Anjungan Sulawesi Utara di Taman Mini Indonesia adalah upaya mempromosikan Wisata Budaya Sulawesi Utara, tentunya juga mempromosikan Anjungan Sulut pasca renovasi.

Persiapan untuk kegiatan tersebut sempat tertunda beberapa kali karena ternyata persiapannya tidak sederhana.

Mulai dari melengkapi kepengurusan, melengkapi panduan baju adat, melelngkapi susunan upacara, dan juga memilih tempat, karena beberapa kriteria yang kami tentukan:

  • tempat di area terbuka untuk kepentingan prosesi yang dapat didokumentasikan dengan baik mengingat jumlah anggota pengurus yang cukup besar
  • tempat yang memiliki atau bisa merepresentasikan nila- nilai cinta tanah air, cinta budaya, cinta persatuan untuk ‘menggambarkan’ peran Kerukunan Keluarga Kawanua dalam turut menjaga keutuhan NKRI melalui partisipasi dalam Ketahanan Budaya dan semangat merawat keragaman dalam kebhinnekaan (Bhinneka Tunggal Ika).

Sesuai amanat dari Musyawarah Budaya Kawanua, masa kepengurusan DPP KKK hasil penyatuan saat ini yang singkat, 2 tahun dimanfaatkan untuk konsolidasi dan penataan organisasi.

Keterangan saya pada diskusi WAG ini sangat terbatas dan tidak sempurna.

Harapannya paling tidak semua kita yang ada dalam organisasi Kekawanuaan atau yang berorientasi adat budaya Minahasa bisa memiliki kesadaran yang sama bahwa perlunya keseriusan dalam upaya pelestarian nilai-nilai luhur adat Minahasa, dan perlunya menghargai pendapat dan pemahaman yg berbeda dari persepsi yang berbeda. Perbedaan adalah kekayaan yang bisa diasah untuk memperluas wawasan pengetahuan kita untuk selanjutnya dapat bersepakat.

Bagi saya pribadi, saya tidak pernah ‘mengejar’ gelar, karena bagi saya yang utama adalah berpengetahuan, berhikmat dan beriman.

Terakhir, kegiatan Pengukuhan Secara Adat Minahasa yang dilaksanakn oleh DPP KKK adalah ‘objek’ untuk dicermati, dikritisi dan diuji. Apakah masih dalam rel ‘pakem’ yang berlaku?, apakah merepresentasikan adat Tou Minahasa?, apakah bisa diterima oleh masysrakat?. Semuanya guna pemuktahiran nilai-nilai luhur adat budaya Minahasa, khususnya kontribusi dari para Tou Kawanua, torang yang di perantauan, serta Tou Minahasa yang saat ini banyak berkegiatan di luar tanah luhur Minahasa, Sulawesi Utara.

Esa Lalan Esa Toroan
Pakatuan wo Pakalawiren

Salam Kawanua,
Angelica Tengker

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Judul Buku: Buku Panduan Menulis Berita di Media Online: Jurnalisme Digital

Penulis: Medi Putra, SH., S.Kom

Tahun Terbit: 01 Juni 2025 (berdasarkan tanggal Kata Pengantar )

Jumlah Halaman: 35 Halaman

Dalam lanskap media yang bertransformasi secara radikal oleh kehadiran internet, “Buku Panduan Menulis Berita di Media Online: Jurnalisme Digital” karya Medi Putra hadir sebagai mercusuar bagi para penulis berita, khususnya bagi mereka yang bergerak dalam pewartaan di era digital. Ditulis dengan semangat berbagi ilmu dan dedikasi yang membara, terutama untuk Perkumpulan Wartawan Gereja Indonesia (PWGI) di mana penulis menjabat sebagai Ketua Umum, buku ini menawarkan panduan yang sistematis dan praktis, dari dasar hingga teknik lanjutan.

Struktur dan Kedalaman Isi

Buku ini tersusun secara logis dalam delapan bab, membedah seluk-beluk penulisan berita online secara komprehensif. Dimulai dengan Bab I: Pendahuluan, penulis berhasil memetakan perbedaan fundamental antara jurnalisme cetak dan daring, menyoroti karakteristik khas media online seperti aksesibilitas global, kecepatan real-time, interaktivitas, dan ketersediaan konten tanpa batas. Prinsip “Brevity” (Ringkas) dan “Adaptability” (Mampu Beradaptasi) dari Paul Bradshaw juga ditekankan sebagai kunci.

Bab II mengukuhkan Pondasi Penulisan Berita Online dengan mengupas tuntas elemen 5W+1H (What, Who, When, Where, Why, How) dan struktur piramida terbalik. Leksana tidak hanya menjelaskan definisi, tetapi juga menekankan nuansa dan urgensi penerapannya dalam konteks online, termasuk bagaimana struktur piramida terbalik menghormati waktu pembaca digital dan mengakomodasi tingkat minat yang berbeda, serta optimalisasinya untuk SEO.

Fokus bergeser pada elemen krusial dalam menarik pembaca di Bab III: Menciptakan Judul dan Teras Berita yang Memikat. Bab ini memberikan strategi penulisan judul yang menarik dan SEO-friendly, membahas persyaratan judul seperti provokatif, singkat, relevan, dan fungsional, hingga aspek teknis seperti panjang karakter dan penempatan kata kunci. Berbagai jenis lead berita, mulai dari summary lead hingga teasing lead, juga disajikan untuk memperkaya teknik penulisan.

Bab IV mengelaborasi Mengembangkan Tubuh Berita yang Efektif, menawarkan pilihan antara gaya penulisan “Cepat vs. Akurat” beserta langkah-langkah praktisnya. Penekanan pada struktur paragraf pendek dan jelas, penggunaan white space, serta pemformatan teks (bold, italic) untuk meningkatkan keterbacaan di platform digital menjadi poin penting.

Era digital menuntut kekuatan visual, dan ini dijawab tuntas dalam Bab V: Kekuatan Visual: Mengintegrasikan Gambar, Video, dan Infografis. Bab ini menggarisbawahi pentingnya visual dalam meningkatkan user engagement dan pemahaman, serta menyajikan praktik terbaik penggunaan gambar dan video, termasuk optimasi teknis (nama file, alt text, ukuran, resolusi), penempatan strategis, aksesibilitas (closed captions), dan etika visual. Panduan pembuatan infografis yang sistematis dan daftar alat bantu populer seperti Canva, Adobe Express, dan Visme turut disertakan.

Aspek vital lainnya, Optimasi SEO untuk Berita Online, dibahas secara mendalam di Bab VI. Mulai dari riset dan penggunaan kata kunci yang relevan, optimasi URL dan meta deskripsi, pemanfaatan tautan internal dan eksternal, hingga optimasi gambar, kecepatan halaman, aspek mobile-friendly, dan promosi media sosial. Daftar periksa SEO On-Page dalam bentuk tabel menjadi panduan praktis yang sangat berguna.

Bab VII kembali ke jantung jurnalisme: Akurasi dan Penyuntingan: Menjaga Kredibilitas. Di tengah derasnya arus informasi, pentingnya kebenaran, kejelasan, dan faktualitas berita ditegaskan, beserta kepatuhan pada kode etik jurnalistik. Dua jenis penyuntingan, substantif dan mekanis, dijelaskan berikut potensi permasalahannya, dilengkapi tips penyuntingan mandiri.

Buku ini ditutup dengan Bab VIII: Kesimpulan: Menyongsong Masa Depan Jurnalisme Online, yang merangkum tantangan dan peluang di lanskap jurnalisme digital, serta menggarisbawahi evolusi peran jurnalis menjadi profesi multidisiplin yang menuntut kemampuan adaptasi dan pembelajaran berkelanjutan.

Kelebihan Buku

  1. Komprehensif dan Mendalam: Buku ini mencakup hampir semua aspek penting dalam penulisan berita online, dari konsep dasar hingga strategi teknis lanjutan seperti SEO dan penggunaan multimedia.
  2. Praktis dan Aplikatif: Disertai dengan tips, langkah-langkah konkret, contoh (seperti penerapan 5W+1H pada berita banjir ), dan checklist (SEO On-Page ), buku ini sangat mudah diaplikasikan. Penyertaan daftar alat bantu infografis juga menambah nilai praktisnya.
  3. Relevan dengan Konteks Kekinian: Penekanan pada SEO, media sosial, mobile-friendliness, dan interaktivitas menunjukkan pemahaman penulis akan tuntutan jurnalisme digital modern.
  4. Struktur yang Jelas: Alur pembahasan yang sistematis dari bab ke bab memudahkan pembaca untuk mengikuti dan memahami materi.
  5. Landasan Etis yang Kuat: Penulis secara konsisten menekankan pentingnya akurasi, etika jurnalistik, dan kredibilitas, yang menjadi fondasi tak tergoyahkan dalam praktik jurnalisme.
  6. Dedikasi dan Tujuan yang Mulia: Lahir dari komitmen untuk Perkumpulan Wartawan Gereja Indonesia (PWGI), buku ini memiliki tujuan jelas untuk meningkatkan kapasitas pewarta gereja, namun isinya sangat bermanfaat bagi siapa saja yang ingin menguasai penulisan berita online.

Potensi Peningkatan (Minor)

Meskipun sudah sangat baik, mungkin bisa dipertimbangkan penambahan studi kasus atau contoh berita online riil yang lebih beragam, yang secara langsung mengaplikasikan prinsip-prinsip yang dibahas dalam setiap bab. Mengingat target awal adalah pewarta gereja, beberapa contoh spesifik terkait pewartaan kabar baik dalam format berita online bisa lebih memperkaya.

Rekomendasi

Buku Panduan Menulis Berita di Media Online” adalah bacaan wajib bagi para jurnalis, calon jurnalis, mahasiswa ilmu komunikasi/jurnalistik, content creator, blogger, dan secara khusus bagi para pewarta gereja yang ingin karya jurnalistiknya profesional, akurat, berdampak, dan menjangkau audiens luas di era digital.

Medi Putra berhasil menyajikan sebuah panduan yang tidak hanya kaya akan teori tetapi juga sarat dengan panduan praktis. Buku ini adalah investasi berharga bagi siapa pun yang ingin berlayar dan bahkan memimpin arus deras jurnalisme digital, dengan tetap memegang teguh kemuliaan profesi. Sebagaimana ditutup oleh penulis, “SOLI DEO GLORIA!” – buku ini adalah persembahan yang mencerahkan.

6 min 1 tahun