0 7 min 4 tahun

Oleh Reza A.A Wattimena

Janganlah berduka, begitu kata Rumi. Apa yang lenyap akan datang kembali dalam bentuk yang lain. Bulan tetap bersinar terang, justru ketika ia tidak menghindari gelap. Seperti bulan, kita bersinar terang, hanya ketika kita memeluk kegelapan.

Percakapan di bar itu sudah berlangsung lama. Bartender sudah mulai bersih-bersih, dan hendak menutup tempat. Entah berapa botol bir yang telah ia minum. Teman saya tampak lunglai.

Hatinya lelah dan patah. Ia baru saja bercerai. Sakitnya luar biasa. Di usianya yang menjelang 40, ia harus meninggalkan istri dan kedua anaknya.

Apakah tak ada jalan lain?, begitu saya tanya. Perpisahan ini tak terhindarkan, begitu katanya. Benih kebencian sudah muncul di hari pertama pernikahan. Ia semakin berkembang, dan meracuni seluruh cinta yang telah ada sebelumnya.

Betapa rapuhnya semua ini. Saya teringat ucapan Buddha Gautama lebih dari 2400 tahun yang lalu. Apa yang dirawat dan dibangun dengan penuh rasa bisa lenyap dalam hitungan detik. Sungguh, hidup ini seperti mimpi, seperti bayangan, sebuah ilusi yang terus berusaha menjerat kita.

Perpisahan adalah salah satu penderitaan paling berat yang ada di dalam hidup manusia. Bentuknya beragam. Perceraian sampai dengan kematian adalah bagian tak terpisahkan dari hidup. Sayangnya, ini sama sekali tak bisa dihindari.

Apa muncul harus lenyap. Apa yang lahir harus mati. Apa yang dipertemukan akan berpisah. Semua hanyalah soal waktu dan giliran.

Ini terlihat mudah. Namun, untuk sungguh menghayatinya, perjuangan yang berat dibutuhkan. Kita boleh lupa sejenak. Namun, berbagai peristiwa akan terus mengingatkan kita, betapa sementaranya semua ini.

Kita mengira, kisah cinta ini akan berlangsung selamanya. Kita mengira, harta kita akan membuat kita kaya selamanya. Ah, betapa kita bodoh. Sedikit pergeseran, semuanya, termasuk nyawa kita, bisa musnah begitu saja.

Perpisahan

Mengapa perpisahan begitu menyakitkan? Ada empat hal penting. Pertama, perpisahan menyakitkan, karena ia menyisakan ingatan. Ada ingatan bahagia yang ingin diulang, namun tak dapat dilakukan. Ini dibarengi dengan ingatan perpisahan yang terus menusuk dari dalam dada.

Ingatan bisa menjadi penjara. Ingatan bisa menjadi penyiksa batin paling besar. Ingatan akan kebahagiaan di masa lalu, dibarengi dengan kesadaran, bahwa itu tak mungkin terulang, sungguh menyakitkan bagi yang mengalaminya. Inilah alasan pertama, mengapa perpisahan itu begitu menyakitkan.

Dua, ingatan juga bisa menjadi dasar untuk harapan. Kita ingin, agar masa depan dipenuhi dengan keindahan. Ide tentang keindahan pun kita peroleh dari apa yang telah kita alami. Pendek kata, kita ingin masa depan yang indah, sebagaimana keindahan yang telah terjadi di masa lalu.

Perpisahan menghancurkan semua itu. Yang telah lalu tak mungkin lagi diulang. Masa depan menjadi penuh dengan ketidakpastian. Yang datang bukan lagi kebahagiaan, tetapi kecemasan dan ketakutan yang menyiksa batin dan badan.

Tiga, perpisahan juga mempengaruhi tubuh kita. Beberapa penelitian telah membuktikan, bahwa perpisahan membuat tubuh kita seperti berusaha lepas dari ketergantungan obat. Kita seperti berusaha lepas dari kecanduan terhadap zat-zat tertentu. Otak kita tak bisa membedakan antara pengalaman perpisahan dengan orang yang dicinta, dan pengalaman putus dari ketergantungan obat.

Empat, pengalaman perpisahan itu seperti kehilangan diri kita sendiri. Seolah, diri kita terbelah, dan meninggalkan kita. Kita hidup hanya dengan separuh nyawa. Tak heran, perpisahan bisa menciptakan derita yang begitu ganas.

Orang pun seperti linglung dibuatnya. Ia merasa seperti tercabut dari dunia. Perpisahan memukul orang sampai ke akar hidupnya. Tak sedikit yang terus berduka, walaupun puluhan tahun telah terlewatkan.

Memulihkan Diri

Ada empat langkah untuk memulihkan diri. Pertama, kita perlu sungguh sadar, bahwa ingatan adalah sampah. Ia adalah sisa-sisa dari pengalaman yang telah lalu. Dengan memahami ini secara tepat, kita akan secara alami berjarak dari ingatan. Siapa yang mau hidup dengan tumpukan sampah?

Hidup dengan sampah membuat kita bau. Kita sesak oleh sengatan ingatan kita. Hari-hari terasa berat. Kita akan terus tenggelam di dalamnya, sampai kita sungguh sadar, dan bangun dari sampah ingatan kita sendiri.

Dua, emosi adalah keadaan sementara, termasuk di saat-saat perpisahan. Kadang sedih muncul, lalu diikuti marah, kecewa, bahagia, senang dan sebagainya. Semua itu adalah keadaan-keadaan yang sementara. Itu bukanlah diri kita. Maka, kita tidak boleh terjebak di dalamnya.

Tiga, memulihkan diri, sebenarnya, adalah kata yang kurang tepat. Tidak ada diri yang sakit. Maka, tidak ada diri yang dipulihkan. Konsep diri hanyalah narasi hasil dari ciptaan pikiran semata yang tak paham soal kehidupan.

Karena tidak ada diri, maka tidak ada perpisahan. Apa yang berpisah, jika diri tidak ada? Manusia selalu merupakan jaringan yang terhubung dengan segala yang ada. Tidak ada diri manusia yang utuh, terpisah, apalagi bersifat tetap.

Pemahaman ini akan memberikan kebebasan yang seutuhnya. Semua rasa dan pikiran hanyalah peristiwa sementara yang segera berlalu. Tidak ada “diri” yang mencengkramnya. Tidak ada diri yang perlu dipulihkan.

Di luar sana, memulihkan diri adalah sebuah industri besar. Banyak guru-guru palsu bertebaran. Banyak acara-acara palsu ditawarkan. Kita perlu jernih dan kritis di dalam membaca itu semua.

Pada akhirnya, duka akibat perpisahan haruslah dilihat sebagai teman lama. Ada waktunya, ia pergi. Ada waktunya, ia kembali berkunjung. Sambutlah ia sebagai teman lama.

Mungkin Rumi benar, kita bisa bersinar, ketika kita memeluk kegelapan. Ia adalah teman lama yang selalu bersama kita. Jangan berduka. Sesungguhnya, tidak ada yang berpisah di alam semesta ini. Kita terus diikat oleh jaringan maha besar yang berada sebelum nama… sebelum kata…

***

Note :

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022) dan berbagai karya lainnya.

Sumber : https://rumahfilsafat.com/2022/08/11/memulihkan-diri-setelah-perpisahan/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Judul Buku: Buku Panduan Menulis Berita di Media Online: Jurnalisme Digital

Penulis: Medi Putra, SH., S.Kom

Tahun Terbit: 01 Juni 2025 (berdasarkan tanggal Kata Pengantar )

Jumlah Halaman: 35 Halaman

Dalam lanskap media yang bertransformasi secara radikal oleh kehadiran internet, “Buku Panduan Menulis Berita di Media Online: Jurnalisme Digital” karya Medi Putra hadir sebagai mercusuar bagi para penulis berita, khususnya bagi mereka yang bergerak dalam pewartaan di era digital. Ditulis dengan semangat berbagi ilmu dan dedikasi yang membara, terutama untuk Perkumpulan Wartawan Gereja Indonesia (PWGI) di mana penulis menjabat sebagai Ketua Umum, buku ini menawarkan panduan yang sistematis dan praktis, dari dasar hingga teknik lanjutan.

Struktur dan Kedalaman Isi

Buku ini tersusun secara logis dalam delapan bab, membedah seluk-beluk penulisan berita online secara komprehensif. Dimulai dengan Bab I: Pendahuluan, penulis berhasil memetakan perbedaan fundamental antara jurnalisme cetak dan daring, menyoroti karakteristik khas media online seperti aksesibilitas global, kecepatan real-time, interaktivitas, dan ketersediaan konten tanpa batas. Prinsip “Brevity” (Ringkas) dan “Adaptability” (Mampu Beradaptasi) dari Paul Bradshaw juga ditekankan sebagai kunci.

Bab II mengukuhkan Pondasi Penulisan Berita Online dengan mengupas tuntas elemen 5W+1H (What, Who, When, Where, Why, How) dan struktur piramida terbalik. Leksana tidak hanya menjelaskan definisi, tetapi juga menekankan nuansa dan urgensi penerapannya dalam konteks online, termasuk bagaimana struktur piramida terbalik menghormati waktu pembaca digital dan mengakomodasi tingkat minat yang berbeda, serta optimalisasinya untuk SEO.

Fokus bergeser pada elemen krusial dalam menarik pembaca di Bab III: Menciptakan Judul dan Teras Berita yang Memikat. Bab ini memberikan strategi penulisan judul yang menarik dan SEO-friendly, membahas persyaratan judul seperti provokatif, singkat, relevan, dan fungsional, hingga aspek teknis seperti panjang karakter dan penempatan kata kunci. Berbagai jenis lead berita, mulai dari summary lead hingga teasing lead, juga disajikan untuk memperkaya teknik penulisan.

Bab IV mengelaborasi Mengembangkan Tubuh Berita yang Efektif, menawarkan pilihan antara gaya penulisan “Cepat vs. Akurat” beserta langkah-langkah praktisnya. Penekanan pada struktur paragraf pendek dan jelas, penggunaan white space, serta pemformatan teks (bold, italic) untuk meningkatkan keterbacaan di platform digital menjadi poin penting.

Era digital menuntut kekuatan visual, dan ini dijawab tuntas dalam Bab V: Kekuatan Visual: Mengintegrasikan Gambar, Video, dan Infografis. Bab ini menggarisbawahi pentingnya visual dalam meningkatkan user engagement dan pemahaman, serta menyajikan praktik terbaik penggunaan gambar dan video, termasuk optimasi teknis (nama file, alt text, ukuran, resolusi), penempatan strategis, aksesibilitas (closed captions), dan etika visual. Panduan pembuatan infografis yang sistematis dan daftar alat bantu populer seperti Canva, Adobe Express, dan Visme turut disertakan.

Aspek vital lainnya, Optimasi SEO untuk Berita Online, dibahas secara mendalam di Bab VI. Mulai dari riset dan penggunaan kata kunci yang relevan, optimasi URL dan meta deskripsi, pemanfaatan tautan internal dan eksternal, hingga optimasi gambar, kecepatan halaman, aspek mobile-friendly, dan promosi media sosial. Daftar periksa SEO On-Page dalam bentuk tabel menjadi panduan praktis yang sangat berguna.

Bab VII kembali ke jantung jurnalisme: Akurasi dan Penyuntingan: Menjaga Kredibilitas. Di tengah derasnya arus informasi, pentingnya kebenaran, kejelasan, dan faktualitas berita ditegaskan, beserta kepatuhan pada kode etik jurnalistik. Dua jenis penyuntingan, substantif dan mekanis, dijelaskan berikut potensi permasalahannya, dilengkapi tips penyuntingan mandiri.

Buku ini ditutup dengan Bab VIII: Kesimpulan: Menyongsong Masa Depan Jurnalisme Online, yang merangkum tantangan dan peluang di lanskap jurnalisme digital, serta menggarisbawahi evolusi peran jurnalis menjadi profesi multidisiplin yang menuntut kemampuan adaptasi dan pembelajaran berkelanjutan.

Kelebihan Buku

  1. Komprehensif dan Mendalam: Buku ini mencakup hampir semua aspek penting dalam penulisan berita online, dari konsep dasar hingga strategi teknis lanjutan seperti SEO dan penggunaan multimedia.
  2. Praktis dan Aplikatif: Disertai dengan tips, langkah-langkah konkret, contoh (seperti penerapan 5W+1H pada berita banjir ), dan checklist (SEO On-Page ), buku ini sangat mudah diaplikasikan. Penyertaan daftar alat bantu infografis juga menambah nilai praktisnya.
  3. Relevan dengan Konteks Kekinian: Penekanan pada SEO, media sosial, mobile-friendliness, dan interaktivitas menunjukkan pemahaman penulis akan tuntutan jurnalisme digital modern.
  4. Struktur yang Jelas: Alur pembahasan yang sistematis dari bab ke bab memudahkan pembaca untuk mengikuti dan memahami materi.
  5. Landasan Etis yang Kuat: Penulis secara konsisten menekankan pentingnya akurasi, etika jurnalistik, dan kredibilitas, yang menjadi fondasi tak tergoyahkan dalam praktik jurnalisme.
  6. Dedikasi dan Tujuan yang Mulia: Lahir dari komitmen untuk Perkumpulan Wartawan Gereja Indonesia (PWGI), buku ini memiliki tujuan jelas untuk meningkatkan kapasitas pewarta gereja, namun isinya sangat bermanfaat bagi siapa saja yang ingin menguasai penulisan berita online.

Potensi Peningkatan (Minor)

Meskipun sudah sangat baik, mungkin bisa dipertimbangkan penambahan studi kasus atau contoh berita online riil yang lebih beragam, yang secara langsung mengaplikasikan prinsip-prinsip yang dibahas dalam setiap bab. Mengingat target awal adalah pewarta gereja, beberapa contoh spesifik terkait pewartaan kabar baik dalam format berita online bisa lebih memperkaya.

Rekomendasi

Buku Panduan Menulis Berita di Media Online” adalah bacaan wajib bagi para jurnalis, calon jurnalis, mahasiswa ilmu komunikasi/jurnalistik, content creator, blogger, dan secara khusus bagi para pewarta gereja yang ingin karya jurnalistiknya profesional, akurat, berdampak, dan menjangkau audiens luas di era digital.

Medi Putra berhasil menyajikan sebuah panduan yang tidak hanya kaya akan teori tetapi juga sarat dengan panduan praktis. Buku ini adalah investasi berharga bagi siapa pun yang ingin berlayar dan bahkan memimpin arus deras jurnalisme digital, dengan tetap memegang teguh kemuliaan profesi. Sebagaimana ditutup oleh penulis, “SOLI DEO GLORIA!” – buku ini adalah persembahan yang mencerahkan.

6 min 1 tahun