0 6 min 2 tahun

Beritakampus.id – Toraja – Urgensi Gereja-gereja di Indonesia, Pemetaan Masalah Gereja-gereja Level Nasional, dan Panduan Kebijakan Gereja Responsif Gender menjadi materi bahasan dalam panel talk show, di hari pertama kegiatan Pekan Raya Perempuan Gereja (PRPrG) PGI 2024, di Gedung Tammuan Mali, Makale, Toraja, Kamis (31/10/2024).

Masing-masing materi disampaikan oleh narasumber Pdt. Krise Anki Gosal, Pdt. Lenta Enni. Simbolon, dan Pdt. Retno Ratih Suryaning Handayani.

Pada kesempatan itu, Pdt. Krise Gosal memaparkan sejumlah tantangan yang dihadapi gereja-gereja di Indonesia, seperti adanya Krisis Keesaan, Krisis Kebangsaan, Krisis Ekologi, Krisis Keluarga, Krisis Pendidikan, Tantangan perkembangan Teknologi Artificial Intellegence (AI).

Sedangkan Krisis Keesaan, lanjut Wasekum PGI ini, ditandai dengan kemandegan hubungan gereja-gereja di Indonesia untuk membangun keesaan gereja dalam kepelbagaian, melemahnya gerakan oikoumene, unity in action tidak diikuti dengan aksi, serta kerjasama lintas gereja sebatas slogan.

Sementara Krisis Kebangsaan tercermin dari terancamnya sendi-sendi persatuan, polarisasi masyarakat yang makin lebar, pelanggaran HAM, berbagai persekusi, semakin banyaknya korban penodaan agama, rawan konflik berkepanjangan menciptakan ketidaknyamanan hidup/ khususnya dalam masyarakat Papua, bertumbuhnya radikalisme dan/atau sikap intoleransi, maraknya korupsi, bahkan di tengah kemiskinan rakyat. “Wajah kemiskinan akut justru pada orang-orang yang tinggal di lokasi yang sangat kaya SDA,” tandasnya.

Lebih jauh dipaparkan Pdt. Krise Gosal, untuk Krisis Ekologi ditandai dengan pengrusakan lingkungan, eksploitasi sumber daya alam dan penguasaan privat sumber hidup bersama baik air, tanah, laut, hutan dan udara, serta gereja mengabaikan panggilan ekologisnya.

“Untuk Krisis Keluarga, yang merupakan unit sosial dan wajah gereja terkecil, berbagai masalah kekerasan dalam rumah tangga akibat budaya patriarki dominan, kesulitan ekonomi, dan pergeseran fundamental fungsi keluarga di era digital,” paparnya.

Demikian halnya Krisis Pendidikan. Menurut Pdt. Krise Gosal dunia pendidikan semakin ekslusif (kurikulum, sistim pengelolaan), minimnya kesejahteraan guru menyebabkan rendahnya minat generasi muda menjadi guru, kualitas guru yang rendah, pendidikkan teologi sebagai jantung gereja juga perlu mendapat perhatian khusus.

Sebab itu, penting untuk segera dilakukan gereja-gereja berkolaborasi mengembangkan kualitas baik kurikulum maupun sistim pengelolaan. Tidak sekadar menambah jumlah sekolah teologi. Gereja-gereja harus memberi perhatian pada upaya pengelolaan sistim pendidikan di Indonesia, baik umum maupun teologi, gereja-gereja untuk berkomitmen dalam pemenuhan hak-hak dasar warga, seperti akses pada pendidikan, pelayanan Kesehatan, kesempatan kerja, dan lainnya.

Terkait Tantangan Perkembangan Teknologi Artificial Intellegence (AI), dia mengingatkan gereja-gereja untuk melakukan kajian-kajian teologi tentang AI, penggunaan AI dalam pelayanan gereja dan kehidupan seluruh ciptaan, serta mendorong pemerintah untuk regulasi pengembangan dan penggunaan AI yang berpotensi mengubah pendidikan dan peradaban.

Dalam rangka mengembangkan kehidupan gereja yang lebih adil dan setara antara laki-laki dan Perempuan, Pdt. Retno ratih secara komprehensif menjelaskan terkait Panduan Kebijakan Gereja Responsif Gender.

Diungkapkan bahwa pembuatan panduan tersebut didasarkan kepada Keputusan Sidang Raya di Nias, selain itu realita masih banyaknya ketimpangan relasi antara laki-laki dengan perempuan, baik dalam masyarakat maupun gereja. Hal ini tampak jelas dalam berbagai kasus kekerasan berbasis gender, dan masih sedikitnya kepemimpinan perempuan dalam gereja.

“Tujuan dari panduan ini adalah memperlengkapi gereja-gereja anggota PGI di dalam menyusun kebijakan gereja responsif genjer. Kedua, memperlengkapi gereja-gereja anggota PGI untuk mengemplementasikan kebijakan dan program gereja responsif gender. Responsif gender adalah upaya yang sistematis dan konsisten dalam melihat perbedaan-perbedaan antara laki-laki dan perempuan, dan upaya untuk menghampus hambatan secara sturktural dan kultural dalam rangka mengupayakan kesetaraan laki-laki dan perempuan,” jelasnya.

Anggota MPH-PGI ini berharap, ketika panduan tersebut diterima, bisa diimplementasikan oleh gereja-gereja dan sinode gereja untuk mengembangkan kehidupan gereja yang lebih adil dan setara antara laki-laki dan perempuan.

Pdt. Lenta E. Simbolon menyinggung soal pergumulan gereja-gereja di Indonesia dalam perspektif DKG (draf) 2024-2029. Menurutnya, menyoroti pergumulan gereja-gereja di Indonesia sesuai draf PPTB 2024-2029 yang menekankan tiga pokok panggilan bersama Gereja-gereja di Indonesia, yakni (1) panggilan keesaan gereja, (2) panggilan pemberitaan Injil, dan (3) panggilan pelayanan sosial-ekologis gereja.

Ketiga pokok panggilan ini mengacu pada pemahaman kontekstual gerejawi dan sosial-ekologis di Indonesia. Ketiga panggilan tersebut menjadi tugas bersama Gereja-gereja di Indonesia yang mengalami polycrisis. Krisis berarti keadaan yang sangat serius, mendesak, dan mengancam keberlangsungan atau stabilitas suatu sistem, organisasi, atau individu, membutuhkan keputusan untuk menangani segera, serta memiliki dampak yang luas dan signifikan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

“Polycrisis berarti bertumpuknya berbagai krisis yang saling memengaruhi dan memperburuk keadaan. Berdasarkan pengamatan demikian, polycrisis sejak Sidang Raya XVII PGI di Sumba sampai Sidang Raya XVIII di Toraja adalah dalam hal keesaan, kebangsaan, dan ekologi, dengan tambahan identifikasi krisis keluarga, pendidikan, serta efek disrupsi yang diakibatkan oleh perkembangan teknologi Artificial Intelligence. Bertolak dari situasi itu, disusun lima agenda tugas bersama sesuai prioritasnya,” papar Sekretaris Eksekutif Bidang KPG-PGI ini.

Lebih jauh dijelaskan, bahwa berangkat dari situasi polycrisis di atas, dalam PPTB 2024-2029, PGI ingin mendorong Gereja-gereja memberi perhatian pada pokok-pokok tugas bersama, yaitu (1) mendata, Mengkaji, dan Mengembangkan Potensi, Kapasitas dan Kapabilitas Gereja-gereja; (2) Mengembangkan Potensi Forum dan Jaringan Oikoumenis Lokal; (3) Membangun Kesadaran dan Jejaring Politik Warga; (4) Mengembangkan Literasi dan Kecakapan Digital Warga Gereja; (5) Memperkuat Basis Keluarga, Pendidikan, Kesadaran Ekologis Hijau dan Biru, Spiritualitas Keugaharian, dan Kemandirian Ekonomi.

 Pewarta: Markus Saragih Sumber : https://pgi.or.id/sesi-i-prprg-pgi-soroti-urgensi-pemetaan-masalah-gereja-level-nasional-dan-kebijakan-responsif-gender-gereja/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Judul Buku: Buku Panduan Menulis Berita di Media Online: Jurnalisme Digital

Penulis: Medi Putra, SH., S.Kom

Tahun Terbit: 01 Juni 2025 (berdasarkan tanggal Kata Pengantar )

Jumlah Halaman: 35 Halaman

Dalam lanskap media yang bertransformasi secara radikal oleh kehadiran internet, “Buku Panduan Menulis Berita di Media Online: Jurnalisme Digital” karya Medi Putra hadir sebagai mercusuar bagi para penulis berita, khususnya bagi mereka yang bergerak dalam pewartaan di era digital. Ditulis dengan semangat berbagi ilmu dan dedikasi yang membara, terutama untuk Perkumpulan Wartawan Gereja Indonesia (PWGI) di mana penulis menjabat sebagai Ketua Umum, buku ini menawarkan panduan yang sistematis dan praktis, dari dasar hingga teknik lanjutan.

Struktur dan Kedalaman Isi

Buku ini tersusun secara logis dalam delapan bab, membedah seluk-beluk penulisan berita online secara komprehensif. Dimulai dengan Bab I: Pendahuluan, penulis berhasil memetakan perbedaan fundamental antara jurnalisme cetak dan daring, menyoroti karakteristik khas media online seperti aksesibilitas global, kecepatan real-time, interaktivitas, dan ketersediaan konten tanpa batas. Prinsip “Brevity” (Ringkas) dan “Adaptability” (Mampu Beradaptasi) dari Paul Bradshaw juga ditekankan sebagai kunci.

Bab II mengukuhkan Pondasi Penulisan Berita Online dengan mengupas tuntas elemen 5W+1H (What, Who, When, Where, Why, How) dan struktur piramida terbalik. Leksana tidak hanya menjelaskan definisi, tetapi juga menekankan nuansa dan urgensi penerapannya dalam konteks online, termasuk bagaimana struktur piramida terbalik menghormati waktu pembaca digital dan mengakomodasi tingkat minat yang berbeda, serta optimalisasinya untuk SEO.

Fokus bergeser pada elemen krusial dalam menarik pembaca di Bab III: Menciptakan Judul dan Teras Berita yang Memikat. Bab ini memberikan strategi penulisan judul yang menarik dan SEO-friendly, membahas persyaratan judul seperti provokatif, singkat, relevan, dan fungsional, hingga aspek teknis seperti panjang karakter dan penempatan kata kunci. Berbagai jenis lead berita, mulai dari summary lead hingga teasing lead, juga disajikan untuk memperkaya teknik penulisan.

Bab IV mengelaborasi Mengembangkan Tubuh Berita yang Efektif, menawarkan pilihan antara gaya penulisan “Cepat vs. Akurat” beserta langkah-langkah praktisnya. Penekanan pada struktur paragraf pendek dan jelas, penggunaan white space, serta pemformatan teks (bold, italic) untuk meningkatkan keterbacaan di platform digital menjadi poin penting.

Era digital menuntut kekuatan visual, dan ini dijawab tuntas dalam Bab V: Kekuatan Visual: Mengintegrasikan Gambar, Video, dan Infografis. Bab ini menggarisbawahi pentingnya visual dalam meningkatkan user engagement dan pemahaman, serta menyajikan praktik terbaik penggunaan gambar dan video, termasuk optimasi teknis (nama file, alt text, ukuran, resolusi), penempatan strategis, aksesibilitas (closed captions), dan etika visual. Panduan pembuatan infografis yang sistematis dan daftar alat bantu populer seperti Canva, Adobe Express, dan Visme turut disertakan.

Aspek vital lainnya, Optimasi SEO untuk Berita Online, dibahas secara mendalam di Bab VI. Mulai dari riset dan penggunaan kata kunci yang relevan, optimasi URL dan meta deskripsi, pemanfaatan tautan internal dan eksternal, hingga optimasi gambar, kecepatan halaman, aspek mobile-friendly, dan promosi media sosial. Daftar periksa SEO On-Page dalam bentuk tabel menjadi panduan praktis yang sangat berguna.

Bab VII kembali ke jantung jurnalisme: Akurasi dan Penyuntingan: Menjaga Kredibilitas. Di tengah derasnya arus informasi, pentingnya kebenaran, kejelasan, dan faktualitas berita ditegaskan, beserta kepatuhan pada kode etik jurnalistik. Dua jenis penyuntingan, substantif dan mekanis, dijelaskan berikut potensi permasalahannya, dilengkapi tips penyuntingan mandiri.

Buku ini ditutup dengan Bab VIII: Kesimpulan: Menyongsong Masa Depan Jurnalisme Online, yang merangkum tantangan dan peluang di lanskap jurnalisme digital, serta menggarisbawahi evolusi peran jurnalis menjadi profesi multidisiplin yang menuntut kemampuan adaptasi dan pembelajaran berkelanjutan.

Kelebihan Buku

  1. Komprehensif dan Mendalam: Buku ini mencakup hampir semua aspek penting dalam penulisan berita online, dari konsep dasar hingga strategi teknis lanjutan seperti SEO dan penggunaan multimedia.
  2. Praktis dan Aplikatif: Disertai dengan tips, langkah-langkah konkret, contoh (seperti penerapan 5W+1H pada berita banjir ), dan checklist (SEO On-Page ), buku ini sangat mudah diaplikasikan. Penyertaan daftar alat bantu infografis juga menambah nilai praktisnya.
  3. Relevan dengan Konteks Kekinian: Penekanan pada SEO, media sosial, mobile-friendliness, dan interaktivitas menunjukkan pemahaman penulis akan tuntutan jurnalisme digital modern.
  4. Struktur yang Jelas: Alur pembahasan yang sistematis dari bab ke bab memudahkan pembaca untuk mengikuti dan memahami materi.
  5. Landasan Etis yang Kuat: Penulis secara konsisten menekankan pentingnya akurasi, etika jurnalistik, dan kredibilitas, yang menjadi fondasi tak tergoyahkan dalam praktik jurnalisme.
  6. Dedikasi dan Tujuan yang Mulia: Lahir dari komitmen untuk Perkumpulan Wartawan Gereja Indonesia (PWGI), buku ini memiliki tujuan jelas untuk meningkatkan kapasitas pewarta gereja, namun isinya sangat bermanfaat bagi siapa saja yang ingin menguasai penulisan berita online.

Potensi Peningkatan (Minor)

Meskipun sudah sangat baik, mungkin bisa dipertimbangkan penambahan studi kasus atau contoh berita online riil yang lebih beragam, yang secara langsung mengaplikasikan prinsip-prinsip yang dibahas dalam setiap bab. Mengingat target awal adalah pewarta gereja, beberapa contoh spesifik terkait pewartaan kabar baik dalam format berita online bisa lebih memperkaya.

Rekomendasi

Buku Panduan Menulis Berita di Media Online” adalah bacaan wajib bagi para jurnalis, calon jurnalis, mahasiswa ilmu komunikasi/jurnalistik, content creator, blogger, dan secara khusus bagi para pewarta gereja yang ingin karya jurnalistiknya profesional, akurat, berdampak, dan menjangkau audiens luas di era digital.

Medi Putra berhasil menyajikan sebuah panduan yang tidak hanya kaya akan teori tetapi juga sarat dengan panduan praktis. Buku ini adalah investasi berharga bagi siapa pun yang ingin berlayar dan bahkan memimpin arus deras jurnalisme digital, dengan tetap memegang teguh kemuliaan profesi. Sebagaimana ditutup oleh penulis, “SOLI DEO GLORIA!” – buku ini adalah persembahan yang mencerahkan.

6 min 1 tahun